Minggu, 24 Mei 2015

Kegiatan Parenting dan Sekolah di UAE

Pertama kali menginjakkan kaki di UAE. Waktu itu di kota Dubai (tahun 2010). Saya belum siap, ternyata, kegiatan Parenting disini membutuhkan kegiatan extra. Dulu di imaginasi saya, suasana arab dan negara Muslim, pasti mendidik anak untuk bekal keagamaan, bagi kami yang menganut agama Islam, tentunya mudah.

Tapi, ternyata ohh ternyata, kegiatan Parenting disini merupakan tantangan bagi kami. Dari mencari guru ngaji, yang tidak mudah, akhirnya pada saat awal ke Dubai saya memutuskan untuk mengajar ngaji sendiri pada anak kami, yang alhamdulillah satu. Kembali lagi ke masalah mengajar ngaji, pendidikan agama, hafalan Qur'an, sampai mengajar tata krama (budaya arab itu keras), juga mendidik sopan santun, merupakan tantangan sendiri.

Alhamdulillah, setelah kami pindah ke Abu Dhabi, saya mendapatkan guru ngaji yang dipanggil ke rumah. Dan setelah 3 tahun kami tinggal disini, pada tahun 2013,  TPA CLUB QU didirikan dan proses belajar mengajarnya bertempat di KBRI, Abu Dhabi. Sejak tahun 2014 saya bergabung menjadi salah satu pengajar TPA CLUB QU.

Bagi orang Indonesia, kita menyekolahkan anak di Sekolah Internasional, dengan kurikulum, British, American, The International Baccalaureate (IB), dsb. Memang ada juga sekolah India, Philipina atau Pakistan, yang agak murah, namun, masuk sekolah ini tidaklah mudah, kebanyakan mereka mempertimbangkan faktor nationality.

Sekolah disini sangat menguras kantong bagi para pendatang, sehingga, kebanyakan sekolah sampai ke tingkat SMA, ditanggung oleh Perusahaan. Namun, tidak semua Perusahaan memberikan school allowance. Banyak perusahaan apalagi Private Company, hanya memberikan gaji paket, termasuk semuanya.

Jadi,  kalau tinggal di UAE, harus pintar mengelola masalah keuangan, walaupun, gaji besar, pengeluaran juga besar. Dan perhatikan juga paket salary, apakah sekolah ditanggung atau tidak, jika memiliki anak yang banyak, apabila sekolah tidak di tanggung, agak berat. Ditanggung pun, ada batasannya biasanya sampai tiga anak (jadi anak ke-empat, dst, harus dikelola dari gaji pokok).

Kurikulum International, kurang memberikan pelajaran agama dan tata krama, jadi untuk pendidikan tersebut, harus diberikan ekstra dari rumah. Saya sering mengingatkan anak saya untuk bertata krama, cara berbicara yang sopan, karena lingkungan arab yang keras kadang diikuti oleh anak saya. Jadi, jangan lelah untuk mengingatkan anak mengenai hal ini.

Salah satu yang paling penting adalah faktor bahasa. Kami selalu berusaha, bercakap menggunakan bahasa Indonesia. Saya juga membelikan dia, buku-buku cerita bahasa Indonesia. Karena, bagaimanapun dia harus ingat leluhurnya, dan siapa tahu nanti, jika kami kembali ke tanah air, dia tidak kerepotan untuk adaptasi masalah bahasa, untuk berbicara dan membaca.

Ohya, lainnya adalah masalah kreatifitas, nah untuk yang satu ini saya masih, harus belajar. Bagaimana meningkatkan kreatifitas anak yah, dulu masih kecil, saya sering ajarkan origami, atau seni melipat kertas, kalau sekarang apa ya, kira2, sekarang dia hobi main catur dan main games. Kurang aktivitas fisiknya, kalau disekolah yah main bola, dsb.

Semoga kami sebagai ortu, dapat terus belajar dan belajar, memperbaiki diri, menjadi lebih baik lagi. Walaupun kami sadar, kami tidak sempurna, tapi kami senantiasa berusaha, menjadi orang tua yang terbaik semampu kami.

Jika ada sharing, masukkan, bagi kami silahkan saja, sehingga kami bisa meningkatkan diri kami dan memperbaiki diri lebih baik lagi.